<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://nursyawal.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nursyawal.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Oct 2009 01:34:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nursyawal.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nursyawal.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nursyawal.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tak Pernah Belajar Dari Kesalahan</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/10/07/tak-pernah-belajar-dari-kesalahan/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/10/07/tak-pernah-belajar-dari-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 01:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Pembagian sembako di Balai Kota Jakarta Senin siang menyisakan puluhan orang tua dan anak-anak terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Mereka harus mempertaruhkan keselamatan jiwanya hanya untuk sebuah paket sembako senilai tak lebih dari lima puluh ribu rupiah dan uang tunai empat puluh ribu rupiah. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kejadian tragis pembagian sembako [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=124&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembagian sembako di Balai Kota Jakarta Senin siang menyisakan puluhan orang tua dan anak-anak terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Mereka harus mempertaruhkan keselamatan jiwanya hanya untuk sebuah paket sembako senilai tak lebih dari lima puluh ribu rupiah dan uang tunai empat puluh ribu rupiah. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kejadian tragis pembagian sembako tahun lalu yang menelan puluhan korban meninggal dunia tergencet dan terinjak-injak.</p>
<p>Pembagian sembako di balai kota ini merupakan kegiatan sosial bapak Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Kericuhan dilatarbelakangi oleh kekhawatiran sebagian calon penerima yang merasa tidak akan mendapatkan sembako sejumlah enam ribu paket tersebut. Mereka yang berada paling belakang kemudian merangsek kedepan sambil mendorong kerumunan di depannya. Alhasil, anak-anak dan sebagian besar wanita yang berusia lanjut yang berada di tengah kerumunan harus tergencet dan sebagian lagi sudah terinjak-injak oleh yang lainnya. Untungnya, kesigapan petugas satpol PP dapat mengurangi jumlah korban luka.</p>
<p>Apa yang dapat menjadi pelajaran dari sini? Pertama, adalah ketidakpastian pada sebuah antrian menyebabkan setiap orang yang berada pada antrian paling belakang selalu dibayangi kekhawatiran tidak mendapatkan apa yang ditunggunya. Jalan paling pintas, ya menyerobot ke depan. Beda bila kita perhatikan antrian di luar negeri yang juga menunggu pembagian sembako karena krisis pangan, misalnya. Meskipun antrian harus puluhan kilometer panjangnya, mereka tetap rela mengantri karena mereka mempunyai kepastian akan mendapatkannya setelah giliran mereka tiba. Mereka menghormati orang yang datang terlebih dahulu. Kedua, budaya antri yang belum kita miliki. Mungkin disebabkan karena ketidakpastian di atas atau karena egoisme kita, mau menang sendiri, mau duluan terus. Saya sering mengalami keadaan seperti ini, dimana setiap orang selalu ingin dilayani terlebih dahulu meskipun dia datang belakangan.</p>
<p>Disebuah restoran cepat saji, saya mendapati seorang ibu yang datang mengantri setelah saya pura-pura tidak tahu dengan menggeser pelan-pelan tempatnya berdiri mendekati loket pesanan. Padahal dia tahu pasti bahwa saya telah berdiri terlebih dahulu untuk mengantri. Saya diam menunggu reaksi dia setelah pemesan di depan saya selesai membayar. Ternyata benar, dia menyerobot dengan acuh. Saya lantas menegurnya dengan muka jengkel. Dia pun dengan muka tidak berdosa mendebat saya seolah-olah itu masalah yang tidak usah dipersoalkan. Untungnya, petugas kasir menengahi memberitahu ibu tersebut kalau saya memang yang antri lebih dulu.</p>
<p>Ketiga, kita tidak pernah belajar dari pengalaman. Niat baik pembagian sembako seharusnya tidak dilakukan dengan “cara yang salah”, yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Mungkin pembagian cara seperti itu diganti dengan cara-cara yang lebih “save”, lebih aman. Dibutuhkan perencanaan dan kerja lebih ekstra tentunya. Misalnya membagi secara “door to door”, dengan sistem kupon atau secara berkelompok dengan sasaran yang lebih tepat yakni kelompok dhuafa atau fakir miskin yang telah terdata dengan baik. Selain tertib dan tepat, yang lebih penting adalah bisa menghindarkan dari kejadian jatuhnya korban akibat berdesak-desakan.</p>
<p>Persoalannya, apakah mereka mau membagi dengan cara seperti itu? Pembagian dengan cara itu tentu jauh dari perhatian masyarakat dan pemberitaan media. Mungkin mereka butuh lebih dari sekedar beramal membagi sembako pada kaum tak punya. Hanya Allah yang Maha Mengetahui hati manusia. Wallahuallam bizzawab… (21/09/2009-18:04)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=124&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/10/07/tak-pernah-belajar-dari-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang terbaik, yang fenomenal, yang pergi&#8230;</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/08/05/yang-terbaik-yang-fenomenal-yang-pergi/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/08/05/yang-terbaik-yang-fenomenal-yang-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 02:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 4 Agustus 2009. Kita dihentakkan dengan dua berita mengejutkan. Satu berita lokal: pak Yasin Limpo telah dipanggil oleh-Nya. Satu berita nasional: Mbah Surip juga telah dipanggil oleh-Nya. Mungkin berita pertama hanya menggemparkan masyarakat Sulsel, satunya lagi menggemparkan seluruh pencinta musik &#8220;aneh&#8221; tanah air. Pak Yasin Limpo, siapa yang tidak mengenal beliau. Salah satu putra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=121&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selasa, 4 Agustus 2009. Kita dihentakkan dengan dua berita mengejutkan. Satu berita lokal: pak Yasin Limpo telah dipanggil oleh-Nya. Satu berita nasional: Mbah Surip juga telah dipanggil oleh-Nya. Mungkin berita pertama hanya menggemparkan masyarakat Sulsel, satunya lagi menggemparkan seluruh pencinta musik &#8220;aneh&#8221; tanah air.</p>
<p>Pak Yasin Limpo, siapa yang tidak mengenal beliau. Salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan. Beliau telah melahirkan putra-putri terbaiknya. Pak Syahrul Yasin Limpo, adalah tokoh yang menjabat sebagai Gubernur Sulsel saat ini. Ichsan Yasin Limpo, adalah Bupati Gowa. Anak-cucu lainnya juga punya prestasi politik. Beliau memang membanggakan, memberi sumbangsih tiada tara bagi daerah ini, bahkan telah melahirkan anak-cucu yang punya prestasi luar biasa, baik secara lokal maupun nasional. Selamat jalan, pak Yasin. Semoga amal dan jasamu mendapat ridho di sisi-Nya.</p>
<p>Mbah Surip, juga dikenal luas diseantero negeri ini. Sebulan-dua bulan ini namanya begitu meroket. Dia dianggap fenomenal: lagu &#8220;aneh&#8221;-nya mengisi pundi-pundinya puluhan milyar rupiah. Luar biasa. Dia diundang manggung dimana-mana, hal yang membuatnya harus menyerah pada hidup. Kita dikagetkan berita ditelevisi: Mbah Surip meninggal. Haaah? Padahal lagunya didendangkan dimana-mana, oleh siapa saja, bahkan oleh anak kecilpun hapal lagunya <em>&#8220;&#8230;tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana, enak toh, mantap toh, daripada naik pesawat kedinginan, mendingan tak gendong to&#8230;&#8221;</em>. Selamat jalan, Mbah Surip. Kamu telah memberi arti pada dirimu, menjadi terkenal dan fenomenal diujung nafasmu. Semoga Allah SWT menyayangimu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=121&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/08/05/yang-terbaik-yang-fenomenal-yang-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kabar Indonesia sebulan ini&#8230;</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/07/17/kabar-indonesia-sebulan-ini/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/07/17/kabar-indonesia-sebulan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 10:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Banyak kejadian di bulan Juli ini. Mulai dari hasil Pilpres yang mengejutkan (perolehan suara pak JK cuman 11%-15% versi quick count), rencana Golkar memutar haluan baru: apakah jadi partai oposisi seperti yang mereka gembar-gemborkan pasca deklarasi koalisi jumbo atau nebeng dalam pemerintahan baru pak SBY, kekhawatiran ibu Mega karena rontoknya satu-persatu komitmen partai yang tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=118&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak kejadian di bulan Juli ini. Mulai dari hasil Pilpres yang mengejutkan (perolehan suara pak JK cuman 11%-15% versi <em>quick count</em>), rencana Golkar memutar haluan baru: apakah jadi partai oposisi seperti yang mereka gembar-gemborkan pasca deklarasi koalisi jumbo atau <em>nebeng</em> dalam pemerintahan baru pak SBY, kekhawatiran ibu Mega karena rontoknya satu-persatu komitmen partai yang tidak pro-SBY, sampai berita terakhir pagi ini: meledaknya satu bom di Kuningan.</p>
<p>Bom? Lama kita tidak mendengar bom meledak sejak Noordin M. Top dikabarkan tewas. Tanpa asap, tanpa hujan tiba-tiba kita dikagetkan dengan ledakan bom pagi ini. Apakah motif peledakan ini? Apakah cikal bakal generasi baru Noordin M. Top atau kawanan teroris lainnya sudah mulai unjuk gigi? Atau ada indikasi lain?</p>
<p>Ini tentu pe-er baru buat kepolisian dan coreng muka buat intelijen kita. Ledakan itu telah merenggut korban nyawa.</p>
<p>Memang sering kita diteror dengan isu ledakan bom, seperti baru-baru ini di kantor KPK. Tapi setelah ditelusuri, ternyata cuma gertak sambal belaka. Tapi bom di Kuningan pagi ini tidak didahului ancaman telepon, dan tiba-tiba&#8230;DUAAARRR!</p>
<p>Indonesia kecolongan, Indonesia berduka, dan Indonesia harus waspada!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=118&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/07/17/kabar-indonesia-sebulan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedaulatan Indonesia di Ambalat</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/10/kedaulatan-indonesia-di-ambalat/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/10/kedaulatan-indonesia-di-ambalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 11:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Wuuiih… hubungan Indonesia – Malaysia memanas. Dua negara satu rumpun ini sedang berkonfrontasi di blok Ambalat. Pasalnya, kapal patroli Polisi Diraja Malaysia dianggap melakukan tindakan yang melanggar disaat blok ini masih dalam status perundingan. Bahkan beberapa nelayan Indonesia ditangkapi dan dirampas hasil lautnya. Kondisi ini memancing rasa nasionalisme dan patriotisme sebagian kalangan di Indonesia. Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=87&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-88" title="ambalat" src="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/ambalat.jpg?w=490" alt="ambalat"   />Wuuiih… hubungan Indonesia – Malaysia memanas. Dua negara satu rumpun ini sedang berkonfrontasi di blok Ambalat. Pasalnya, kapal patroli Polisi Diraja Malaysia dianggap melakukan tindakan yang melanggar disaat blok ini masih dalam status perundingan. Bahkan beberapa nelayan Indonesia ditangkapi dan dirampas hasil lautnya.</p>
<p>Kondisi ini memancing rasa nasionalisme dan patriotisme sebagian kalangan di Indonesia. Mereka menyerukan perlawanan perang. Gus Dur bahkan setuju kalau Indonesia menyerukan perang terhadap Malaysia demi membela kedaulatan Indonesia di blok ini. Kedutaan Malaysia pun sering disambangi pendemo menuntut penjelasan masalah ini.</p>
<p>Jalan diplomasi ditempuh. Nota politik kemudian dilayangkan, bahkan serombongan anggota DPR RI telah melakukan kunjungan ke legislatif Malaysia. Belakangan memang pejabat pertahanan Malaysia mengakui kekhilafan mereka dalam melihat batas wilayah negara mereka dan kemudian menyepakati untuk berpatroli bersama di wilayah ini.</p>
<p>Kita patut khawatir akan masalah Blok Ambalat ini. Trauma akan kasus Sipadan-Ligitan yang harus direlakan untuk menjadi wilayah Malaysia menjadi alasan utama. Beberapa pengamat mengkhawatirkan, bila Pemerintah lengah menyikapi persoalan ini bukan tidak mungkin Ambalat pun harus kita relakan menjadi milik Pemerintah Malaysia.</p>
<p>Apakah wilayah Indonesia harus digerogoti sedikit demi sedikit oleh negara tetangga kita? Provinsi Timor Timur bisa menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah bagaimana opsi yang dianggap menguntungkan bisa berbalik jadi bumerang. Belum lagi ujian dari dalam negeri sendiri. Persoalan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang sedang diuji. GAM, OPM, RMS dan berbagai gerakan separatis lainnya adalah contoh ancaman dari dalam negeri sendiri.</p>
<p>Apapun tantangannya, Blok Ambalat harus dipertahankan. Sudah menjadi tugas Pemerintah untuk mengemban amanah ini, baik secara diplomatik maupun secara konfrontatif. Harus dilakukan segera, jangan terlambat. Lebih cepat, lebih baik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=87&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/10/kedaulatan-indonesia-di-ambalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/ambalat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ambalat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angkatan Bersenjata-ku, nasibmu kini…</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/10/angkatan-bersenjata-ku-nasibmu-kini%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/10/angkatan-bersenjata-ku-nasibmu-kini%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 11:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[alutsista]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Belum hilang duka para keluarga yang ditinggal akibat jatuhnya pesawat Herculer beberapa waktu lalu, kita dimiriskan lagi berita tentang gugurnya prajurit terbaik bangsa ini karena kecelakaan helikopter. Ada apa dengan angkatan bersenjata kita? Mereka gugur bukan karena perang membela tanah air, tetapi harus meregang nyawa karena kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi. Sorotan terhadap alat utama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=85&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-84" title="alutsista" src="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/alutsista1.jpg?w=490" alt="alutsista"   />Belum hilang duka para keluarga yang ditinggal akibat jatuhnya pesawat Herculer beberapa waktu lalu, kita dimiriskan lagi berita tentang gugurnya prajurit terbaik bangsa ini karena kecelakaan helikopter. Ada apa dengan angkatan bersenjata kita? Mereka gugur bukan karena perang membela tanah air, tetapi harus meregang nyawa karena kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi. Sorotan terhadap alat utama sistem pertahanan (alutsista) kita, kembali mencuat. Pasalnya, minimnya anggaran untuk pertahanan ditengarai penyebabnya. Realitasnya, diperkirakan hanya 60% alutsista yang siap pakai. Sisanya? Hanya berupa onggokan besi yang bisa mengancam nyawa bila dipakai. Bagaimana negeri ini bisa menjawab bila kedaulatannya terancam? Bagaimana negeri ini bisa menjaga dan menjamin keselamatan anak bangsanya bila ancaman perang datang menghampiri? Kita cuma berharap, tragedi kecelakaan helikopter itu bisa menjadi musibah yang terakhir. Kita cuma bisa berharap tak ada lagi putra terbaik bangsa harus gugur percuma. Semuanya terpulang pada Pemerintah. Anggaran pertahanan harus ditingkatkan sehingga gaung hebatnya tentara Indonesia dijaman tahun 60-an dulu &#8211;bahkan terhebat di Asia Tenggara&#8211; bisa terdengar lagi. Apa lagi yang ditunggu? Lebih cepat, lebih baik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=85&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/10/angkatan-bersenjata-ku-nasibmu-kini%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/alutsista1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alutsista</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vote for JK-Wiranto</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/04/vote-for-jk-wiranto/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/04/vote-for-jk-wiranto/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 11:19:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=73&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-79" title="dukung-jkwin" src="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/dukung-jkwin1.gif?w=490" alt="dukung-jkwin"   /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=73&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/04/vote-for-jk-wiranto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/dukung-jkwin1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">dukung-jkwin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Prita Mulyasari: Profit Versus Mutu RS</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/04/kasus-prita-mulyasari-profit-versus-mutu-rs/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/04/kasus-prita-mulyasari-profit-versus-mutu-rs/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 07:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari terakhir ini kita banyak mendengar dari media kasus yang menimpa ibu Prita Mulyasari, seorang karyawati bank swasta yang menuliskan keluh-kesah di emailnya tentang buruknya pelayanan salah satu rumah sakit “bertaraf internasional” yang mengantarnya masuk bui. Kasus ini mengundang tanggapan banyak kalangan. Tak kurang wapres Jusuf Kalla meminta pihak Kepolisian dan Kejaksaan Agung memberikan perhatian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=67&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari terakhir ini kita banyak mendengar dari media kasus yang menimpa ibu Prita Mulyasari, seorang karyawati bank swasta yang menuliskan keluh-kesah di emailnya tentang buruknya pelayanan salah satu rumah sakit “bertaraf internasional” yang mengantarnya masuk bui. Kasus ini mengundang tanggapan banyak kalangan. Tak kurang wapres Jusuf Kalla meminta pihak Kepolisian dan Kejaksaan Agung memberikan perhatian khusus untuk kasus Prita Mulyasari ini. Jusuf Kalla bahkan telah menelepon Kapolri untuk mempertimbangkan penahanan Prita. Menurutnya, kasus ringan seperti ini seharusnya hanya dikenai wajib lapor.</p>
<p>Desakan wapres Jusuf Kalla akhirnya berbuah. Prita kini dikenakan status tahanan kota. Prita mengaku sangat berterima kasih kepada wapres dan berencana akan menemuinya dalam waktu dekat.</p>
<p>Kasus ini diajukan dengan berdasar pada Undang-undang ITE, dimana beberapa kalangan menilai bertentangan dengan hak seseorang untuk mengajukan pendapat. Maraknya kasus ini bahkan mengkhawatirkan Menkofindo akan lahirnya sikap penolakan masyarakat terhadap undang-undang ini.</p>
<p>Menkofindo memang menyayangkan tindakan pihak rumah sakit yang mengajukan kasus ini ke meja hijau. Menurutnya, pihak rumah sakit seharusnya lebih fokus untuk memperbaiki mutu pelayanannya. Apakah ini bentuk ketakutan pihak rumah sakit akan kehilangan <em>costumer</em>-nya?</p>
<p>Rumah sakit “bertaraf internasional” ini memang menjamur di Jakarta. Masyarakat di tanah air yang banyak melakukan pemeriksaan kesehatan di luar negeri  &#8211;seperti di Singapura&#8211; mungkin adalah jawabannya. Tapi sayangnya, bayangan profit yang bakal diraup tidak dibarengi mutu pelayanan yang memadai. Apakah ini ada kaitannya dengan regulasi perizinan rumah sakit atau lemahnya pengawasan mutu pelayanan? Atau rumah sakit dengan label “internasional”-nya yang memanipulasi ketidaktahuan pasien karena soal keuntungan semata?</p>
<p>Simak saja penuturan Prita Mulyasari dalam kutipan emailnya berikut ini.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p><em>Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.</em></p>
<p><em>Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.</em></p>
<p><em>Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.</em></p>
<p><em>dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.</em></p>
<p><em>Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.</em></p>
<p><em>Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.</em></p>
<p><em>Mulai Jumat tersebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.</em></p>
<p><em>Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.</em></p>
<p><em>Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.</em></p>
<p><em>Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.</em></p>
<p><em>Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.</em></p>
<p><em>Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.</em></p>
<p><em>dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.</em></p>
<p><em>Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.</em></p>
<p><em>Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.</em></p>
<p><em>Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.</em></p>
<p><em>Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.</em></p>
<p><em>Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.</em></p>
<p><em>Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.</em></p>
<p><em>Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.</em></p>
<p><em>Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. </em><em>Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. </em><em>Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.</em></p>
<p><em>Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.</em></p>
<p><em>Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.</em></p>
<p><em>Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.</em></p>
<p><em>Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohong besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.</em></p>
<p><em>Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.</em></p>
<p><em>Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.</em></p>
<p><em>Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.</em></p>
<p><em>Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.</em></p>
<p><em>Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.</em></p>
<p><em>Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.</em></p>
<p><em>Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). </em><em>Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.</em></p>
<p><em>Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.</em></p>
<p><em>Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.</em></p>
<p><em>Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.</em></p>
<p><em>Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Salam,</em></p>
<p><em>Prita Mulyasari</em></p>
<p><em>Alam Sutera</em></p>
<p><em>prita.mulyasari@yahoo.com</em></p>
<p><em>081513100600</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=67&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/04/kasus-prita-mulyasari-profit-versus-mutu-rs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Negeri Gajah Putih (1)</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/belajar-dari-negeri-gajah-putih-1/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/belajar-dari-negeri-gajah-putih-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 06:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Waktu ke Thailand dua tahun lalu, saya terkesan dengan Negeri Gajah Putih itu. Pada budayanya, pada perilakunya, dan banyak lagi. Waktu benchmarking ke Thailand, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Sekali lagi, saya kagum dengan negeri itu. Yaah, walaupun sering dilanda carut marut soal politik tapi kalo liat perilaku mereka, saya salut. Saya sih tidak heran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=19&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-20" title="thailand" src="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/thailand.jpg?w=490" alt="thailand"   />Waktu ke Thailand dua tahun lalu, saya terkesan dengan Negeri Gajah Putih itu. Pada budayanya, pada perilakunya, dan banyak lagi. Waktu <em>benchmarking</em> ke Thailand, banyak pelajaran yang bisa dipetik. Sekali lagi, saya kagum dengan negeri itu. Yaah, walaupun sering dilanda carut marut soal politik tapi kalo liat perilaku mereka, saya salut. Saya sih tidak heran kalo di Australia atau negara di Eropa bisa bersih dan cantik. Ekonomi mereka bagus dan tingkat pendidikan dan kesadaran mereka juga baik. Tapi Thailand? Negeri ini baru saja dilanda krisis ekonomi. Dari sudut pandang ini, mungkin Indonesia masih lebih baik. Mungkin karena perilaku dan cara berfikir mereka, sehingga mereka bisa cepat keluar dari krisis ekonomi beberapa tahun lalu. Tapi Indonesia?</p>
<p> <span id="more-19"></span></p>
<p><strong>Perilaku Bersih</strong></p>
<p>Inilah perilaku mereka yang saya saluti: perilaku hidup bersih. Gambaran sederhananya, kalo kita berjalan pada malam hari, sepanjang jalan kota di Thailand dipenuhi dengan pedagang kaki lima. Ada yang jual makanan, buah, pokoknya macam-macam. Tapi coba liat pagi harinya, sepanjang jalan itu bersih seperti tidak pernah ada pedagang di sana sebelumnya. Bersih!</p>
<p>Di pusat kota, dimana banyak berseliweran turis-turis &#8211;praktis banyak juga penjual menjajakan makanannya&#8211; mereka betul-betul menjaga kebersihan kotanya. Saya tertawa sendiri saat teman-teman rombongan pada jajanan buah. Eh.., dasar orang Indonesia tulen, sampahnya dibuang seenaknya saja. Mereka pikir ini di Indonesia, kali! Saya jadi kepikiran program PHBS yang didengung-dengungkan Depkes itu. Kapan bisa berhasil ya, kalo <em>mindset </em>kita masih kayak itu. Mungkin kita selalu berpikir, kan yang bagian membersihkan sampah ada petugasnya. Kita-kita sih tinggal buang sampah saja.</p>
<p>Waktu kami berkunjung ke kampus Mahidol University, kami juga menjumpai pengalaman serupa. Ceritanya, waktu masuk waktu sholat, kita cari toilet buat ambil air wudhu. Sekali lagi, kita memperlihatkan bahwa kita betul-betul berprilaku jelek. Toilet jadi kotor karena air berceceran dimana-mana. Itu sih tidak apa-apa, tapi botol air mineral yang mereka pakai diletakkan sembarangan padahal ada tempat sampah di toilet itu. Jaraknya cukup dekat, cuman semeteran. Tapi kalo dasarnya memang malas&#8230;? Untuk urusan buang air kecil, orang Thailand biasanya pake tisu. Praktis, toilet mereka terlihat bersih.</p>
<p> </p>
<p><strong>Cepat tapi teratur</strong></p>
<p>Satu lagi yang patut diacungi jempol buat orang-orang Thailand itu, mereka sangat tertib di jalan. Kesannya cepat tapi teratur. Jarang saya dengar bunyi klakson di sana. Biasanya yang bikin kacau cuman pengemudi tup-tup (kendaraan khas Thailand, semacam bemo) yang suka slip kiri-slip kanan. Tapi coba lihat di sini, apalagi di Makassar sini. Tidak sopir pete-petenya (semacam mikrolet), tidak pemilik kendaraan pribadinya (kadang termasuk saya juga, kali&#8230;) semuanya zig-zag, slip kiri-slip kanan. Apalagi pengendara motor, hati-hati deeh&#8230;</p>
<p>Mereka memarkir kendaraannya pun tidak seenaknya. Rapi dan teratur. Disetiap tempat yang disiapkan sebagai area parkir dibuat garis putih tanda batas antara satu kendaraan dengan kendaraan lainnya. Dan mereka patuhi aturan itu, meskipun tidak ada petugas yang mengawasi. Lain cerita kalo di sini. Sudah cara parkirnya salah, ditegur eeh&#8230; malah beralasan macam-macam. Kalo sudah kepepet, jurus sogok yang main. Apesnya, pak Polisinya oke-oke saja. Kalo dia orang penting, lebih repot lagi.</p>
<p>Pengemudi kendaraan umum di sana pun setali tiga uang dengan pemilik kendaraan pribadi. Di jalan-jalan utama kota biasanya di perempatan lampu merah, dipasang garis pemisah untuk tiga jalur kendaraan: ke kiri, lurus, ke kanan. Yang mau lurus ambil jalur di tengah meski iringan kendaraan cukup panjang. Kalo mereka tidak bermaksud belok ke kiri, mereka tidak pindah ke jalur itu meskipun kosong. Tak heran, meskipun banyak kendaraan di sana, jarang ada macet hanya karena masing-masing pada ngotot mau jalan, seperti kita di sini.</p>
<p> </p>
<p><strong>Rumah sakit untuk refresing</strong></p>
<p>Ada lagi yang menarik, waktu kunjungan ke Saohai Hospital. Sebagai rumah sakit <em>pilot project,</em> tempat itu dibuat jauh dari kesan tempatnya orang-orang sakit. Di sana, bukan cuman melulu orang sakit yang datang, yang batuklah, yang apalah, tapi orang-orang yang ingin <em>refreshing </em>juga datang ke sana. Di tempat itu ada <em>fitness centre</em>, ada spa, ada tempat pijat (Thailand cukup terkenal dengan <em>Thai Message</em>-nya. Bahkan konon kabarnya untuk bisa dapat izin praktik mijat, harus punya sertifikat yang didapat setelah sekolah tujuh tahun. Hebat kan? Kalo di Indonesia &#8211;waktu saya tanya tukang pijat refleksi di bandara Cengkareng&#8211; katanya mereka cuman dikursus tiga bulan. Beda sekali. Pantasan kalo abis dipijat sama orang Thailand, badan rasa segar dan tidak sakit. Tapi kalo abis dipijat orang di Indonesia&#8230;). Inilah mungkin konsep pengobatan di sana yang menyandingkan pengobatan tradisional dengan pengobatan medis modern.</p>
<p>Orang yang sakit? Jangan bayangkan seperti di Indonesia sini, apalagi di Makassar. Sudah tahu batuk-batuk bisa bikin orang lain tertular, eh&#8230; dia meludahnya di sembarang tempat. Jorok betul! Trus, keluarga pasien juga ikut-ikutan nimbrung di rumah sakit. Alhasil, satu orang yang sakit sekampung yang jagain. Nah, di Thailand itu &#8211;sebagai contoh&#8211; orang yang batuk itu bawa kantongan. Jadi kalo dia batuk atau mau meludah pake kantongan itu. Itupun dia datang cuman diantar salah seorang anggota keluarga.</p>
<p>Saya memperhatikan sesuatu yang unik &#8211;atau sedikit aneh, barangkali&#8211; Saya berkelakar sama teman-teman dengan dosenku waktu itu: apa kelebihan rumah sakit kita daripada rumah sakit di Saohai ini? Waah, hebat dong, kita punya juga kelebihan daripada mereka. Saya bilang: lalat-nya. Spontan mereka tertawa, sekaligus mengamini. Kebayang tidak rumah sakit seperti itu koq tidak ada lalat. Bahkan waktu saya ke <em>pantry</em>-nya pun, di sana juga tidak lalat.</p>
<p> </p>
<p><strong>Askes ala Thailand</strong></p>
<p>Waktu tanya-tanya tentang asuransi kesehatan (pake bahasa inggris tapi belepotan), kami dapat informasi kalo pegawai negeri di sana berobat juga pake semacam asuransi. Begitu ia terdaftar sebagai pegawai negeri, otomatis mereka tercatat sebagai pengguna asuransi. Sama juga di sini, kan. Cuman bedanya, di sana itu si pegawai tidak direpoti lagi tetek-bengek urusan administrasi yang biasanya rewel dan bikin kita malas, tapi cukup menunjukkan kartu anggotanya. Beres deh! Selebihnya, komputer yang urus. Kan <em>on-line</em>&#8230; Tambahan lagi, mereka mendapat pelayanan yang sama bukan dibeda-bedakan karena mereka pengguna asuransi. Tidak kayak kita di sini, ditanya dulu: ini pasien umum atau pasien Askes? Kalo dijawab Askes, biasanya sang petugas atau dokter langsung ngeloyor pergi. Nah, lho?</p>
<p> </p>
<p><strong>Orang Thailand itu produktif</strong></p>
<p>Menurut saya, orang Thailand itu produktif. Meskipun cuman dua mingguan di sana dan praktis jarang di tempat umum, saya cukup bisa menilai seperti itu. Di Saohai Hospital sendiri, staf-staf yang lagi <em>off</em> &#8211;misalnya, yang tugas di ruang <em>fitness centre</em> atau di ruang spa&#8211; karena tidak ada pengunjung, mereka bikin kerajinan tangan. Karya mereka pun dipajang di ruang pamer khusus dan diperjualbelikan. Boleh dikata, waktu mereka tidak dihabiskan untuk ngerumpi saat kerja, tapi betul-betul kerja!</p>
<p>Saya bahkan melihat beberapa orang cacat di pasar juga bekerja sesuai kemampuan mereka, misalnya berjualan. Tak pernah saya menjumpai diantara mereka menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk mengobrol. Bahasa disini: <em>ngerumpi</em> atau <em>ngegosip</em>! Saya dapati mereka biasanya mengobrol pada jam makan malam, sesaat sebelum mereka pulang beristirahat di rumah.</p>
<p> </p>
<p><strong>Walk to work</strong></p>
<p>Kita pernah dengar di sini: <em>bike to work</em>, bersepeda ke tempat kerja. Di Thailand, sebagian pekerja berangkat ke tempat kerjanya dengan berjalan kaki. Kegerahan? Tidak. Pagi hari, udara di sana cukup sejuk karena banyaknya pohon di pinggir jalan. Sampai jam sepuluh pagi, matahari di sana belum begitu terik. Kota Thailand mungkin tidak begitu luas sehingga mereka lebih <em>enjoy</em> berjalan kaki karena jaraknya cukup dekat. Biasanya mereka asik jajan buah sebelum sampai ke kantor. Kebiasaan ini juga barangkali yang membuat cewek-cewek Thailand itu punya bodi mantap dan kulit yang bersih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=19&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/belajar-dari-negeri-gajah-putih-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/thailand.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">thailand</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Facebook haram? Koq&#8230;</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/facebook-haram-ndak-ya/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/facebook-haram-ndak-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 06:54:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Komunitas pengguna layangan pertemanan &#8211;facebook&#8211; terperangah. Para facebooker mendengar kabar kalo MUI bakal membuat fatwa haram bagi facebook. Koq bisa haram? Dimana logikanya? Seorang kolumnis disalah satu harian melansir bahwa alasan pengharaman itu karena MUI melihat layanan ini membuka peluang terjadinya perselingkuhan. Trus, bagaimana dengan handphone? Ini sih, api jauh dari panggangnya. Persoalan jauh dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=16&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-43" title="FB" src="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/fb.jpg?w=490" alt="FB"   />Komunitas pengguna layangan pertemanan &#8211;<em>facebook</em>&#8211; terperangah. Para <em>facebooker</em> mendengar kabar kalo MUI bakal membuat fatwa haram bagi facebook. Koq bisa haram? Dimana logikanya? Seorang kolumnis disalah satu harian melansir bahwa alasan pengharaman itu karena MUI melihat layanan ini membuka peluang terjadinya perselingkuhan. Trus, bagaimana dengan <em>handphone</em>? Ini sih, api jauh dari panggangnya. Persoalan jauh dari sebabnya.</p>
<p>Hemat saya, seharusnya masalahnya bukan pada <em>facebook</em>-nya, tapi pada penggunanya. Analognya, mobil yang dipake untuk selingkuhan tentu tidak lantas mengatakan kalo orang lain tidak lagi boleh memakainya meskipun tujuannya untuk ke kantor. Intinya, <em>facebook</em> cuman fasilitas. Mau dipakai untuk tujuan baik atau jelek, tergantung <em>facebooker</em>-nya.</p>
<p>Fenomena <em>facebook</em> memang luar biasa, menandingi layanan serupa seperti <em>friendster</em>. Boleh dikata, sekarang ini lagi demam <em>facebook</em>. Orang dicap ndak gaul kalo belum punya akun di <em>facebook</em>. Kalo sudah “demam”, berarti sebentar lagi bakal “sakit”, kan? Ada pegawai kantoran kadang lupa kerjaannya karena asik membuka layanan ini. Ada yang merasa “belum bisa tidur kalo belum buka <em>facebook</em> seharian”.</p>
<p>Inilah mungkin pangkal kekhawatiran itu. Sebelum “sakit”, MUI merasa perlu mengingatkan para <em>facebooker</em> untuk “minum obat” biar demamnya tidak berlanjut. Bijaknya, MUI sebaiknya menghimbau agar menggunakan <em>facebook</em> secara proporsional. Bila berlebihan, dalam pandangan Islam ini termasuk kategori makruh, kegiatan yang tidak punya manfaat.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, <em>facebook</em> punya nilai positif yang lain. Membangun pertemanan (dengan tujuan positif tentunya), bahkan tak jarang ketemu dengan teman lama kita. Kesibukan dan jarak menyita banyak kesempatan kita untuk bertemu dengan orang lain. Teman SD, teman SMP, teman SMA, teman se-gank, teman KKN, pokoknya banyak sekali. Ini berarti silaturahmi nyambung lagi. Dalam pandangan Islam, silaturahmi itu baik. Jadi apanya yang salah? Cuman “<em>facebooker</em> genit” saja &#8211;pake <em>facebook</em> buat selingkuhan&#8211; yang seharusnya diberi fatwa haram. Yang lain, <em>enjoy aja</em>&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=16&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/facebook-haram-ndak-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/fb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia</title>
		<link>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/catatan-menyambut-hari-tanpa-tembakau-sedunia/</link>
		<comments>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/catatan-menyambut-hari-tanpa-tembakau-sedunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 06:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinas Kesehatan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nursyawal.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah media melansir pernyataan Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, bahwa aturan larangan merokok di Jakarta tidak efektif. Koq? Fakta lain terungkap dari sebuah penelitian bahwa sebagian besar pelaku pelanggaran kebijakan itu adalah pegawai negeri. Repot, kan?   Kebijakan ini sebenarnya lanjutan dari jamannya pak Sutiyoso dulu. Bagi yang kedapatan melanggar aturan ini dikenakan denda lima puluh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=13&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah media melansir pernyataan Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, bahwa aturan larangan merokok di Jakarta tidak efektif. Koq? Fakta lain terungkap dari sebuah penelitian bahwa sebagian besar pelaku pelanggaran kebijakan itu adalah pegawai negeri. Repot, kan?</p>
<p> <span id="more-13"></span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-45" title="rokok" src="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/rokok.jpg?w=490" alt="rokok"   />Kebijakan ini sebenarnya lanjutan dari jamannya pak Sutiyoso dulu. Bagi yang kedapatan melanggar aturan ini dikenakan denda lima puluh juta rupiah atau sanksi kurungan.  Apa ndak salah? Saya memang berfikir saat itu kalo aturan ini tidak bakalan jalan. Apalagi dengan ancaman yang “tidak masuk akal” seperti itu. Jika pemerintah ingin serius menanggulangi masalah rokok, regulasi yang dibuat harus tegas, contohnya di Singapura.</p>
<p>Singapura termasuk ketat dalam soal rokok. Harga rokok dibuat melambung agar orang enggan mengkonsumsinya. Selain itu, ruang gerak mereka dipersempit. Pendatang dikontrol ketat, jangan-jangan masuk bawa rokok. Mereka menyadari bahwa dibeberapa negara kebiasaan ini masih ada sehingga mereka memberi aturan boleh membawa rokok hanya sebungkus minus satu batang. Selebihnya, bila kedapatan, sanksi berat akan menghadang. Seorang teman malah pernah kena denda hampir sejuta hanya karena dikopernya kedapatan ada sebungkus rokok. Cukup manusiawi, sekaligus efektif.</p>
<p>Kalo kita kembali melihat kebijakan pelarangan merokok di Jakarta tadi, menurut hemat saya cukup pemerintah cukup membuat efek jera bagi perokok yang melanggar aturan. Misalnya mereka yang kedapatan merokok di tempat umum, didenda uang lima puluh ribu rupiah atau kurungan beberapa hari. Perlahan tapi pasti, orang akan berfikir dua kali sebelum mereka merokok di sembarang tempat. Intinya, mereka boleh merokok tapi tidak mengganggu kepentingan orang yang tidak merokok. Cukup adil. Pemerintah sebagai regulator harus tegas dan memperhatikan kepentingan para perokok ini juga. Misalnya, dibangun <em>space </em>buat perokok di area-area publik seperti mall, atau bandara.</p>
<p>Memang agak lucu melihat penegakan aturan ini di Indonesia. Kita bisa liat di bandara Cengkareng. Disediakan area buat perokok tapi tidak memenuhi standar, setidaknya itu penilaian saya. Ruangannya kecil &#8211;hanya ada satu tempat duduk dengan kapasitas ruang sekitar tiga sampai empat orang saja&#8211; dan tidak tertutup pula. Faktanya di Indonesia, sebagian besar laki-laki dewasa adalah perokok. Fasilitas yang tidak memadai semacam itu menjadikan regulasi ini setengah hati. Ada yang merokok dipinggiran ruangan, sehingga asapnya jadi kemana-mana. Coba tengok lorong menuju ruang tunggu. Meskipun ada tanda larangan merokok terpampang di sana, orang asik saja merokok di sana. Mereka pikir tidak mengganggu karena tidak merokok di dalam ruang tunggu. Siapa bilang? Parahnya lagi, petugas di bandara tidak menegur penumpang yang merokok itu (bagaimana dia mau menegur, dia juga ikutan melanggar).</p>
<p>Fenomena rokok di Indonesia memang masih jadi persoalan. Angka perokok pemula semakin hari semakin meningkat. Umur mereka ternyata jauh dari perkiraan, bahkan ada yang merokok pada umur sepuluh tahun. Ingat tidak bocah empat tahun yang dulu diberitakan sudah merokok beberapa batang setiap hari sehabis menetek? Fenomena ini sebetulnya menggambarkan ketidakseriusan kita &#8211;termasuk pemerintah&#8211; dalam upaya menekan angka perokok. Dengungan untuk tidak merokok hanya ada setahun sekali, saat akan menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Alhasil, semua hanya berjalan sebagai seremonial belaka. Meskipun poster dan bungkus rokok sudah diberikan peringatan akan dampak buruk rokok, iklan rokok di tivi ditayangkan diatas jam sepuluh malam, justru jumlah perokok semakin bertambah dan konsumsi rokok juga ikut meningkat. Apa yang salah?</p>
<p>Wajar bila pemerintah setengah hati. Industri rokok menyumbang devisa cukup besar buat negeri ini. Selain itu, industri rokok membuka lapangan kerja cukup banyak. Pelarangan rokok bisa berdampak menurunnya produktifitas industri rokok, sehingga akan berdampak pada efisiensi perusahaan. PHK pasti jawabannya. Ini dilema, tapi butuh keseriusan untuk menyelesaikannya. Boleh jadi devisa yang didapatkan cukup besar, tapi biaya untuk upaya penanggulangan dampak buruk rokok dimasa depan jauh lebih besar.</p>
<p>Momentum peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini setidaknya bukan lagi sekedar seremonial belaka, tapi jadi pijakan pertama bagi pemerintah untuk serius menangani persoalan rokok ini. Para perokok bisa merokok tanpa mengganggu kepentingan orang yang tidak merokok, dan yang tidak merokok akan menghirup udara segar setiap hari di manapun ia berada. Kita tinggal tunggu langkah serius pemerintah. Lebih cepat, lebih baik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nursyawal.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nursyawal.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nursyawal.wordpress.com&amp;blog=7968961&amp;post=13&amp;subd=nursyawal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nursyawal.wordpress.com/2009/06/02/catatan-menyambut-hari-tanpa-tembakau-sedunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dfac545ec4ef98bf4ca31e72ebecb60d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syawal</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nursyawal.files.wordpress.com/2009/06/rokok.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rokok</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
