Pembagian sembako di Balai Kota Jakarta Senin siang menyisakan puluhan orang tua dan anak-anak terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Mereka harus mempertaruhkan keselamatan jiwanya hanya untuk sebuah paket sembako senilai tak lebih dari lima puluh ribu rupiah dan uang tunai empat puluh ribu rupiah. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kejadian tragis pembagian sembako tahun lalu yang menelan puluhan korban meninggal dunia tergencet dan terinjak-injak.

Pembagian sembako di balai kota ini merupakan kegiatan sosial bapak Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Kericuhan dilatarbelakangi oleh kekhawatiran sebagian calon penerima yang merasa tidak akan mendapatkan sembako sejumlah enam ribu paket tersebut. Mereka yang berada paling belakang kemudian merangsek kedepan sambil mendorong kerumunan di depannya. Alhasil, anak-anak dan sebagian besar wanita yang berusia lanjut yang berada di tengah kerumunan harus tergencet dan sebagian lagi sudah terinjak-injak oleh yang lainnya. Untungnya, kesigapan petugas satpol PP dapat mengurangi jumlah korban luka.

Apa yang dapat menjadi pelajaran dari sini? Pertama, adalah ketidakpastian pada sebuah antrian menyebabkan setiap orang yang berada pada antrian paling belakang selalu dibayangi kekhawatiran tidak mendapatkan apa yang ditunggunya. Jalan paling pintas, ya menyerobot ke depan. Beda bila kita perhatikan antrian di luar negeri yang juga menunggu pembagian sembako karena krisis pangan, misalnya. Meskipun antrian harus puluhan kilometer panjangnya, mereka tetap rela mengantri karena mereka mempunyai kepastian akan mendapatkannya setelah giliran mereka tiba. Mereka menghormati orang yang datang terlebih dahulu. Kedua, budaya antri yang belum kita miliki. Mungkin disebabkan karena ketidakpastian di atas atau karena egoisme kita, mau menang sendiri, mau duluan terus. Saya sering mengalami keadaan seperti ini, dimana setiap orang selalu ingin dilayani terlebih dahulu meskipun dia datang belakangan.

Disebuah restoran cepat saji, saya mendapati seorang ibu yang datang mengantri setelah saya pura-pura tidak tahu dengan menggeser pelan-pelan tempatnya berdiri mendekati loket pesanan. Padahal dia tahu pasti bahwa saya telah berdiri terlebih dahulu untuk mengantri. Saya diam menunggu reaksi dia setelah pemesan di depan saya selesai membayar. Ternyata benar, dia menyerobot dengan acuh. Saya lantas menegurnya dengan muka jengkel. Dia pun dengan muka tidak berdosa mendebat saya seolah-olah itu masalah yang tidak usah dipersoalkan. Untungnya, petugas kasir menengahi memberitahu ibu tersebut kalau saya memang yang antri lebih dulu.

Ketiga, kita tidak pernah belajar dari pengalaman. Niat baik pembagian sembako seharusnya tidak dilakukan dengan “cara yang salah”, yang bisa mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Mungkin pembagian cara seperti itu diganti dengan cara-cara yang lebih “save”, lebih aman. Dibutuhkan perencanaan dan kerja lebih ekstra tentunya. Misalnya membagi secara “door to door”, dengan sistem kupon atau secara berkelompok dengan sasaran yang lebih tepat yakni kelompok dhuafa atau fakir miskin yang telah terdata dengan baik. Selain tertib dan tepat, yang lebih penting adalah bisa menghindarkan dari kejadian jatuhnya korban akibat berdesak-desakan.

Persoalannya, apakah mereka mau membagi dengan cara seperti itu? Pembagian dengan cara itu tentu jauh dari perhatian masyarakat dan pemberitaan media. Mungkin mereka butuh lebih dari sekedar beramal membagi sembako pada kaum tak punya. Hanya Allah yang Maha Mengetahui hati manusia. Wallahuallam bizzawab… (21/09/2009-18:04)

Selasa, 4 Agustus 2009. Kita dihentakkan dengan dua berita mengejutkan. Satu berita lokal: pak Yasin Limpo telah dipanggil oleh-Nya. Satu berita nasional: Mbah Surip juga telah dipanggil oleh-Nya. Mungkin berita pertama hanya menggemparkan masyarakat Sulsel, satunya lagi menggemparkan seluruh pencinta musik “aneh” tanah air.

Pak Yasin Limpo, siapa yang tidak mengenal beliau. Salah satu putra terbaik Sulawesi Selatan. Beliau telah melahirkan putra-putri terbaiknya. Pak Syahrul Yasin Limpo, adalah tokoh yang menjabat sebagai Gubernur Sulsel saat ini. Ichsan Yasin Limpo, adalah Bupati Gowa. Anak-cucu lainnya juga punya prestasi politik. Beliau memang membanggakan, memberi sumbangsih tiada tara bagi daerah ini, bahkan telah melahirkan anak-cucu yang punya prestasi luar biasa, baik secara lokal maupun nasional. Selamat jalan, pak Yasin. Semoga amal dan jasamu mendapat ridho di sisi-Nya.

Mbah Surip, juga dikenal luas diseantero negeri ini. Sebulan-dua bulan ini namanya begitu meroket. Dia dianggap fenomenal: lagu “aneh”-nya mengisi pundi-pundinya puluhan milyar rupiah. Luar biasa. Dia diundang manggung dimana-mana, hal yang membuatnya harus menyerah pada hidup. Kita dikagetkan berita ditelevisi: Mbah Surip meninggal. Haaah? Padahal lagunya didendangkan dimana-mana, oleh siapa saja, bahkan oleh anak kecilpun hapal lagunya “…tak gendong kemana-mana, tak gendong kemana-mana, enak toh, mantap toh, daripada naik pesawat kedinginan, mendingan tak gendong to…”. Selamat jalan, Mbah Surip. Kamu telah memberi arti pada dirimu, menjadi terkenal dan fenomenal diujung nafasmu. Semoga Allah SWT menyayangimu.

Banyak kejadian di bulan Juli ini. Mulai dari hasil Pilpres yang mengejutkan (perolehan suara pak JK cuman 11%-15% versi quick count), rencana Golkar memutar haluan baru: apakah jadi partai oposisi seperti yang mereka gembar-gemborkan pasca deklarasi koalisi jumbo atau nebeng dalam pemerintahan baru pak SBY, kekhawatiran ibu Mega karena rontoknya satu-persatu komitmen partai yang tidak pro-SBY, sampai berita terakhir pagi ini: meledaknya satu bom di Kuningan.

Bom? Lama kita tidak mendengar bom meledak sejak Noordin M. Top dikabarkan tewas. Tanpa asap, tanpa hujan tiba-tiba kita dikagetkan dengan ledakan bom pagi ini. Apakah motif peledakan ini? Apakah cikal bakal generasi baru Noordin M. Top atau kawanan teroris lainnya sudah mulai unjuk gigi? Atau ada indikasi lain?

Ini tentu pe-er baru buat kepolisian dan coreng muka buat intelijen kita. Ledakan itu telah merenggut korban nyawa.

Memang sering kita diteror dengan isu ledakan bom, seperti baru-baru ini di kantor KPK. Tapi setelah ditelusuri, ternyata cuma gertak sambal belaka. Tapi bom di Kuningan pagi ini tidak didahului ancaman telepon, dan tiba-tiba…DUAAARRR!

Indonesia kecolongan, Indonesia berduka, dan Indonesia harus waspada!

ambalatWuuiih… hubungan Indonesia – Malaysia memanas. Dua negara satu rumpun ini sedang berkonfrontasi di blok Ambalat. Pasalnya, kapal patroli Polisi Diraja Malaysia dianggap melakukan tindakan yang melanggar disaat blok ini masih dalam status perundingan. Bahkan beberapa nelayan Indonesia ditangkapi dan dirampas hasil lautnya.

Kondisi ini memancing rasa nasionalisme dan patriotisme sebagian kalangan di Indonesia. Mereka menyerukan perlawanan perang. Gus Dur bahkan setuju kalau Indonesia menyerukan perang terhadap Malaysia demi membela kedaulatan Indonesia di blok ini. Kedutaan Malaysia pun sering disambangi pendemo menuntut penjelasan masalah ini.

Jalan diplomasi ditempuh. Nota politik kemudian dilayangkan, bahkan serombongan anggota DPR RI telah melakukan kunjungan ke legislatif Malaysia. Belakangan memang pejabat pertahanan Malaysia mengakui kekhilafan mereka dalam melihat batas wilayah negara mereka dan kemudian menyepakati untuk berpatroli bersama di wilayah ini.

Kita patut khawatir akan masalah Blok Ambalat ini. Trauma akan kasus Sipadan-Ligitan yang harus direlakan untuk menjadi wilayah Malaysia menjadi alasan utama. Beberapa pengamat mengkhawatirkan, bila Pemerintah lengah menyikapi persoalan ini bukan tidak mungkin Ambalat pun harus kita relakan menjadi milik Pemerintah Malaysia.

Apakah wilayah Indonesia harus digerogoti sedikit demi sedikit oleh negara tetangga kita? Provinsi Timor Timur bisa menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah bagaimana opsi yang dianggap menguntungkan bisa berbalik jadi bumerang. Belum lagi ujian dari dalam negeri sendiri. Persoalan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang sedang diuji. GAM, OPM, RMS dan berbagai gerakan separatis lainnya adalah contoh ancaman dari dalam negeri sendiri.

Apapun tantangannya, Blok Ambalat harus dipertahankan. Sudah menjadi tugas Pemerintah untuk mengemban amanah ini, baik secara diplomatik maupun secara konfrontatif. Harus dilakukan segera, jangan terlambat. Lebih cepat, lebih baik.

alutsistaBelum hilang duka para keluarga yang ditinggal akibat jatuhnya pesawat Herculer beberapa waktu lalu, kita dimiriskan lagi berita tentang gugurnya prajurit terbaik bangsa ini karena kecelakaan helikopter. Ada apa dengan angkatan bersenjata kita? Mereka gugur bukan karena perang membela tanah air, tetapi harus meregang nyawa karena kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi. Sorotan terhadap alat utama sistem pertahanan (alutsista) kita, kembali mencuat. Pasalnya, minimnya anggaran untuk pertahanan ditengarai penyebabnya. Realitasnya, diperkirakan hanya 60% alutsista yang siap pakai. Sisanya? Hanya berupa onggokan besi yang bisa mengancam nyawa bila dipakai. Bagaimana negeri ini bisa menjawab bila kedaulatannya terancam? Bagaimana negeri ini bisa menjaga dan menjamin keselamatan anak bangsanya bila ancaman perang datang menghampiri? Kita cuma berharap, tragedi kecelakaan helikopter itu bisa menjadi musibah yang terakhir. Kita cuma bisa berharap tak ada lagi putra terbaik bangsa harus gugur percuma. Semuanya terpulang pada Pemerintah. Anggaran pertahanan harus ditingkatkan sehingga gaung hebatnya tentara Indonesia dijaman tahun 60-an dulu –bahkan terhebat di Asia Tenggara– bisa terdengar lagi. Apa lagi yang ditunggu? Lebih cepat, lebih baik.

Arsip

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Komentar Terakhir

Kategori

Blog ini buat belajar nulis aja...!

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Almanak

Mei 2012
S S R K J S M
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.